Teacher can changes lives with just the right mix of chalk and challenges
-Joyce Meyer-
Sebuah kelas ibarat rumah, guru dan murid perlu berdiskusi kemana rumah itu akan dibawa. Nilai apa yang akan ditanamkan, kebiasaan apa yang akan dirawat, apa yang sangat ingin kita hindari. Kehadiran para fasilitator baru membawa ide-ide baru juga ke dalam proses belajar-mengajar di sekolah KDM. Anak-anak tentu dibanjiri pengalaman baru, kepala mereka dipenuhi pertanyaan baru baik yang memusingkan maupun mencengangkan.
Pada semester musim hujan kemarin, dalam pameran hasil belajar sepuluh minggu, anak-anak mempresentasikan beragam aktivitas seru. Misalnya di kelas karakter kelas kuning, anak-anak menantang diri untuk memerankan tokoh-tokoh muda yang penting dan punya pengaruh. Seperti apa rasanya menjadi Ghreta yang rela mogok sekolah demi lingkungan, atau Sophie Cruz yang memberi surat kepada Paus Fransiskus untuk memperjuangkan hak kaum migran? Beda cerita di kelas drama, anak-anak mencoba merasakan dua sekolah berbeda. Sekolah Madam Kukusan yang mengajarkan anak-anak dengan kelembutan atau sekolah madam Presto yang memaksa anak tumbuh sangat cepat. Sekolah mana yang kita pilih?
Semua orang bekerja keras, dari murid sampai guru. Semua patut diapresiasi karena mencoba melukis warna baru, mencoba lagu baru atau desain baru.
Segala yang sudah berjalan baik, yang belum berjalan dengan baik dan sesuatu diantaranya, semua patut dirayakan dan diulang di musim berikutnya. (YS)